Pentingnya dakwah sekolah
Januari 19, 2009
DAKWAH SEKOLAH
Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak hingga dewasa, suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak tetap. Remaja selalu penuh dengan gejolak dan keinginan besar. Remaja ingin menyesuaikan diri dalam masyarakat, ingin diakui oleh masyarakat bahwa ia telah dewasa. Rasa ingin tau yang tinggi dapat menjerumuskan remaja pada hal-hal negatif apabila tidak diberikan pendidikan dan pengarahan pada mereka. Begitu banyak remaja yang menghabiskan waktu luang mereka dengan nongkrong tidak karuan di jalanan, ikut-ikutan teman yang sering mengkonsumsi minuman keras bahkan terjerumus pada penggunaan zat psikotropika dan seks bebas
Proses peralihan pada masa remaja ini sebenarnya merupakan efek yang di timbulkan oleh gejolak di diri remaj yang biasa dikenal sebagai negative phase dengan ciri-ciri antara lain: ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi, penentangan terhadap kewibawaan orang dewasa, kurang percaya diri dan suka berkhayal. Pada saat yang sama muncul pula positive phase dimana remaja mulai memikirkan tentang masa depannya dan telah memiliki kesiapan untuk ditempa lebih lanjut untuk mencapai cita-citanya. Remaja memiliki kemurnian niat, semangat yang tinggi, fisik yang kuat, idealisme yang besar dan kesiapan fikri yang optimal. Potensi positif dan negatif ini dapat saling meniadakan, tergantung unsur-unsur mana yang lebih kuat mempengaruhinya Ibarat..besaran..vektor yaitu memiliki besaran dan arah
Apakah segenap besaran potensi kepemudaannya itu akan mengarah positif dan produktif ataukah sebaliknya mengarah menjadi negatif dan destruktif. Itulah mengapa kita sering melihat barisan pemuda-pelajar yang sangat getol mengkaji Islam, menghafalkannya, mengadakan studi Islam dan berdakwah di sekolah-sekolah, mulai mengenakan jilbab, giat belajar, aktif kegiatan positif
Sementara pada saat yang sama kita menyaksikan wabah tawuran, narkoba, free-seks dan musik destruktif melanda remaja-remaja kita dari kota-kota besar hingga pelosok desa di tanah air. Teriakan histeris para remaja dari depan panggung pertunjukan musik untuk penyanyi idolanya menjadi kenyataan antagonis dengan para remaja yang senantiasa tiada kenal lelah bergerak di berbagai oraganisasi dakwah, yang tiap harinya tak jauh dari mushaf dan berusaha menjaga kekhusyuan shalatnya
Menurut dr Boyke Dian Nugroho, SpOG MARS jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia saat ini mencapai 500-600 ribu orang dimana 40% diantaranya remaja berusia 15-10 tahun. Ada dua penyebab utama terjadinya percepatan penularan HIV/AIDS yaitu perilaku seks bebas (30%) dan peredaran narkoba terutama yang menggunakan jarum suntik (50%). Dengan demikian Indonesia memungkinkan jadi episentrum HIV/AIDS. Di Malang raya sendiri hingga menjelang Desember 2007, tercatat 17 dari 65 penderita HIV/AIDS meninggal dunia. Sebuah catatan buruk tentang kondisi remaja kita di Indonesia. Dan jelas menunjukan semakin muramnya wajah remaja kita. Akibat kelarutan dan lemahnya pengarahan potensi positif yang mereka miliki dan berbanding terbalik dengan energi negatif yang senantiasa mempengaruhi potensi negatif nya untuk berkembang
Dan pada posisi ini tak ada yang perlu di salahkan melainkan perlu suatu upaya dari kita bersama untuk bisa berfikir upaya strategis dalam mengatasi masalah ketidak seimbangan pada masa transisi ini. Karena kalau tidak segera di atasi ini akan menjadi suatu kondisi yang permanen yang membahayakan kelangsungan bangsa ini. Karena para remaja sekarang lah, tongkat estafet akan di serahkan.
Yang harus di pahami bahwa perlu energi positif yang optimal dalam mengarahkan remaja pada posisi vektor yang ideal dan seimbang. Yaitu dengan kembali menguatkan nilai-nilai spritual dan pemahaman mereka dengan terhadap dinnul islam. Karena itulah sistem terbaik yang menggiring manusia pada suatu tatanan yang sempurna.
Proses tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam) seharusnya berlangsung sejak dini.sebagaimana Nasihat Luqman pada anaknya diabadikan oleh Allah SWT dalam surah Luqman ayat 12-19 .jelas bahwa tarbiyah sejak dini dianggap lebih efektif dan harus segera dilakukan. Terutama dari Rumah masing-masing terlebih dahulu.
Selain itu perlu kesadaran untuk upayakan pendidikan formal di sekolah untuk mewadahi pendidikan moral islam para remaja yang lebih intens. Melalui sebuah wadah gerakan dakwah Sekolah.
Dakwah sekolah adalah proses tarbiyah Islamiyah yang berlangsung di sekolah. Dakwah sekolah cukup mewakili tarbiyah islamiyah yang komprehensif ini. Fase ini sangat berguna dalam pembentukan kepribadian pemuda, yaitu fase dimulainya kematangan fisik, intelektual dan kejiwaan. Ada tiga kunci pentingnya dakwah sekolah, yaitu ladang emas dakwah yang efektif, massif dan strategis.
Efektif, karena pemuda dan pelajar lebih mudah direkrut dan didakwahi dengan baik dibandingkan generasi tua, atau bahkan kalangan kampus/mahasiswa.
Strategis, karena dakwah sekolah dalam jangka panjang akan menyuplai SDM di berbagai lapisan masyarakat sekaligus. Peran dakwah sekolah yang sangat strategis ini yang di harapkan mengantarkan para remaja muslim yang berkepribadian penuh ketaqwaan yang akan menempati posisi penting di negara ini ke depan. Karena dakwah sekolah itu juga tidak terpaku dalam pembinaan mental spiritual remaja, namun juga mencakup aspek kepemimpinan, dan upaya-upaya pengaktualan diri mereka pada sisi positif. sehingga para remaja tersebut siap dalam menghadapi zaman globalisasi dan menjadi manusia sukses dalam persaingan global ini. Dan itu sudah di buktikan oleh beberapa sekolah-sekolah yang umumnya ada di kota-kota besar dalam menciptakan pemimpin masa depan di berbagai lini (perusahaan, pemerintahan, maupun para wirausahawan) yang cerdas intelektualnya dan juga cerdas mental dan spiritualnya yaitu dengan nilai-nilai islam. Karena mereka dahulunya adalah produk dari penerapan dakwah sekolah.
Dakwah sekolah bertujuan untuk mewujudkan barisan remaja-pelajar yang mendukung dan mempelopori tegaknya nilai-nilai kebenaran, mampu menghadapi tantangan masa depan dan menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat Islam. Bangsa dan agama membutuhkan barisan generasi yang kokoh dan memiliki kekuatan yang dashat sebagai agen perubahan. Barisan ini harus pandai memadukan aspek keimanan dan taqwa (imtaq) serta ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Mereka akan mendapatkan bimbingan mental dan spiritual yang tidak biasa yang tidak didapat dari pendidikan formal di dalam kelas
Menurut Prof. DR. Sofyan S. Willis, M.PD, ada lima metode dakwah pada remaja, yaitu:
-
- Metode Ceramah
Metode ini menunjukkan keaktifan penceramah, sedangkan murid atau jamaahnya pasif. Keuntungannya dapat memberikan ceramah pada sekelompok besar pendengar. Kekurangannya ialah pendengar pasif dan sulit memahami ceramah secara mendalam dan individual.
-
- Metode Diskusi
Diskusi mengajarkan murid berfikir secara terbuka dan demokratis. Daya kritis dan kreatif tersalur dengan wajar.
-
- Metode Problem Solving
Menekankan pada usaha pemecahan masalah sehingga mengundang murid berfikir kreatif. Metode ini juga berkaitan dengan metode diskusi.
-
- Metode Responsi
Penceramah melengkapi metode dengan tanya-jawab.
-
- Metode Peragaan
Memberikan alat bantu untuk mata dan telinga.
Metode-metode tersebut terdapat dalam program dakwah sekolah. Secara berkala, pelajar diberikan bimbingan dengan ceramah, mendiskusikan berbagai hal, adanya ruang tanya-jawab, upaya pemecahan masalah masing-masing rekan dan adanya waktu khusus untuk menyalurkan minat positif pelajar dengan berbagai kegiatan yang mengadu keberanian. Tastqif (ceramah agama) dan taklim (pemberian nasehat agama) menjadi agenda rutin dakwah sekolah. Diskusi melalui mentoring sangat efektif dan rihlah (jalan-jalan) serta hiking dalam menyegarkan fisik dan mental dengan melihat kebesaran Sang Pencipta di alam bebas.
Nah, sehingga perlu adanya wadah yang dapat mengelola energi-energi positif dakwah sekolah ini. Salah satunya ialah ROHIS (Kerohanian Islam) yang umum di kenal di beberapa sekolah. Ada juga DKM (Dewan Kesejahteraan Masjid Sekolah. Dan lain sebagainya. Yang penting adalah bagaimana peran dari Rohis / DKM tersebut mampu benar-benar membawa misi dakwah sekolah. Tentunya perlu sebuah manajemen dan pengelolaan yang terukur dan terarah. Serta dibutuhkan sentuhan dari berbagai pihak terutama komunikasi aspek penunjang dakwah sekolah. Yaitu, pihak sekolah, siswa serta Alumni.
Pihak sekolah sebagai pemilik otoritas kebijakan di sekolah sebagai kekuatan utama yang harus di tunjang dengan para Alumni sebagai konseptor yang penuh ilmu dan pengalaman dan potensi lainnya yang. Akan menggiring dan menuntun para siswa sebagai objek dari dakwah sekolah yang juga di laksanakan oleh elit siswa di sekolah semisal ketuar Osis dan yang lebih penting lagi Ketua Rohis dan staf-stafnya sebagai motor dari dakwah sekolah itu sendiri, dan perlu untuk di bangunnya kesadaran seperti ini. Sehingga terbangunlah sebuah sinergi yang menggerakkan energi positif yang dapat mendorong arah vektor potensi remaja pada arah yang positif. Artinya akan terlahirlah kader-kader bangsa yang sempurna dari intelektual dan spiritualnya (Taqwa), atau terpadunya antara IMTAQ dan IPTEK. Sesuai dengan Motto Remaja masa depan yang taqwa, dan gaul yang sukses. (/KOR ; dari berbagai Sumber.)
Entry Filed under: Romantika dakwah sekolah. Tag: LDS.


Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed