Posts filed under 'Uncategorized'
KEDUDUKAN AL ‘ULAMA
Muqoddimah
Melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh ummat manusia, mengingatkan kita untuk kembali mentelaah semuanya dengan kacamata al Qur-an dan atau al Hadits Shohih, “apa yang seharusnya dilakukan?” Dimana Allah pasti tidak akan lagi menurunkan RasulNya seperti dalam al Qur-an Surah Al- Ahzab Ayat 40 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir dan penutup para Nabi. Selanjutnya ketika melihat al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33 dan al Hadits Shohih riwayat Muslim dari jalan Syadad bin Aus dan Tsauban yang pada intinya Allah menggambarkan bahwa pada akhir zaman pasti Dia tegakkan al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai Norma Hukum bagi seluruh ummat manusia dan semesta alam yang akhirnya manusia hanya terbagi menjadi dua golongan yaitu pertama mukmin yang dimuliakan Allah dan kafir yang dihinakan Allah. Maka yang menjadi pokok pertanyaan kita adalah, “siapa dan bagaimana menyongsong janji tersebut?”
Allah SWT memberikan isyarat petunjuk dalam al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dimana pada Ayat tersebut ada beberapa pokok penjelasan yaitu, pertama Nabi Isa Ibnu Maryam berkata “Siapakah penolong-penolongku kepada Allah” kalimat ini memberikan pengertian bahwa setelah para Rasul dan Nabi tidak diutus lagi dan hanya al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai bekalan, maka yang wajib bergerak untuk menjemput janjiNya adalah Al’Ulama dan Anshorullah.Dalam hal ini dijelaskan dalam al Qur-an Surah Fathir Ayat 28 dan al Qur-an Surah Asy-Syuro Ayat 13 Al ulama bekerja memandu dan menyeru ummat. Yang kedua ummat Islam secara umum bergerak menyambut seruan tersebut sebagai anshorullah. Sebagaimana sambutan hawariy kepada rasulullah Isa ,”Kami penolong diinullah”. Inilah yang disebut Muttabi atau pengikut setia Rasulullah yang siap menjadi Anshorullah, yang mereka ini harus mampu memenuhi apa yang disyaratkan Allah dalam Surah Al-Kahfi Ayat 28 dan 29 dimana disebutkan harus memiliki sikap teguh pendirian atau istiqomah dalam pola berjamaah dan pada al Qur-an Surah Al-Anfal Ayat 20 yaitu melakukan tansiq untuk menyatukan hati orang-orang yang beriman dalam suatu tandhim yang tertata dengan rapi.
Kedua golongan inilah yaitu Al’Ulama dan Hawariy yang siap menjemput janji Allah akan keberlakuan HukumNya di muka bumi yang dilakui siang dan malam sampai akhir zaman.
Pokok Kajian
Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk berupa gambaran dari satu sikap hamba Allah yang tidak terlena oleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan gejolak kehidupan duniawiyah, sebagaimana digambarkan dalam Surah An-Nur Ayat 37, yaitu :
“Para lelaki yang tidak dapat terlalaikan mereka itu oleh perniagaan dan jual beli terhadap mengingati Allah, dan mendirikan sholat dan membayarkan zakat (lantaran) mereka takut akan suatu hari (dimana) terjadi goncang pada waktu itu, hati dan pandangan”
Ayat tersebut bila dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, sangat jelas menggambarkan tentang sikap “Al’Ulama” yang senantiasa berupaya menepati tugas dan tanggung jawabnya dalam menjunjung tinggi Kalimatullah. Oleh karena itu, maka Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya mengenai dua macam kedudukan Al ‘Ulama. Pertama, ‘Ulama itu adalah pemegang amanah Allah atas makhluqNya yang menjelaskan al Qur-an Surah Fathir Ayat 28. Kedua, Al ‘Ulama sebagai pemegang amanah para Rasul dengan dalil Surah Asy-Syuro Ayat 13. Sehingga dengan kedudukan ini Al ‘Ulama akan senantiasa berupaya untuk mematuhi dan menepati batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.
Pembahasan
Bahwa sebenarnya “Al’Ulama” adalah hamba Allah yang faqir, artinya senantiasa berharap keridhoan Allah dalam segala kiprah hidupnya untuk menepati pengabdiannya. Berarti kepribadiannya sudah harus terukur, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah Ayat 24, bahwa mereka itu “cinta kepada Allah, RasulNya dan Jihad di jalanNya diatas segalanya”. Inilah tatanan kepribadian utama yang membuat Al’Ulama disebut Al’Arif dan Al’Khowasy. Kemudian hal ini memunculkan sikap ketulusan hati dalam ketha’atan, sehingga berupaya sekuat mungkin menepati perintah Allah dengan tidak akan pernah mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil. Sikap inilah yang dicantumkan Allah di dalam Surah Al-Baqoroh Ayat 42.
“Dan janganlah mencampur-adukkan al haq dengan yang bathil, dan kamu
menyembunyikan al haq sedangkan kamu mengetahui”
Muatan makna dari ayat ini antara lain:
A. Al’Ulama dituntut kemampuannya dalam memahami beberapa batasan dari Allah, antara lain adalah ketetapan Allah untuk memiliki “hija-ban mastu-ro” (dinding pembatas atau pembeda) yang dinyatakanNya dalam Surah Al-Isro Ayat 45. Maka dengan itu akan berkemampuan menjelaskan berbagai perbedaan sifat (antagonistic) antara dinul Islam- dari dan milik Allah, dengan system hidup buatan manusia. Diantaranya perbedaan antara Asy-Syiyasah dengan Politik yang merupakan produk fikiran manusia.
B. Berdasarkan Surah Al-Anfal Ayat 24 bahwa dituntut kemampuannya dalam mewaspadai diri, terhadap keberadaan potensi nafsu dan al`aqlu, yang antara keduanya ada pembatas. Nafsu adalah tempat atau intuisi yang sangat potensial bagi bisikan syaithon. Sedangkan al`aqlu adalah intuisi bagi suara wahyu. Artinya dalam menerima perintah dari al Qur-an harus menempatkannya dalam al`aqlu bukan dilandasi nafsu. Dengan adanya kontrol diri ini maka al ‘Ulama akan dapat melakukan pengkondisian terhadap ummat Islam ke arah yang benar, agar mereka tidak terpengaruh oleh bisikan nafsu angkara murka yang dijelaskan Surah Yusuf Ayat 53. Maka dengan ini akan tampaklah bahwa sesungguhnya Islam itu mengutamakan cinta kasih terhadap ummat manusia, karena masalah manusia adalah topik utama dalam al Qur-an sebagaimana panduan dalil Surah Al-Maidah Ayat 32.
Manakala hal tersebut telah difahami, maka dengan berpedoman pada Kaidah Menejemen al Qur-an yang dijelaskan Surah Al-Furqon Ayat 52 serta wujud dari menejemen al Qur-an yang dijelaskan juga pada Surah Al-An’am Ayat 153, secara jelas al ‘Ulama akan mampu memberikan jalan keluar kepada Ummat Islam ketika mereka dihadapkan dengan beberapa kenyataan, antara lain :
1. Dalam kehidupan global (ma-adina), dipastikan setiap Negara di dunia telah mengalami proses “integrasi” atau penyatuan dalam berbagai kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
2. Dalam hubungan antar bangsa secara pasti terjadi proses “interdependency”, yaitu terjadi saling ketergantungan dalam hal saling memberi dan menerima, antara lain dalam hal warna peradaban.
Mengatasi hal tersebut, jelas tidak mungkin bisa menemukan antisipasinya, selama para ‘Ulama hanya berfikir sebatas “rumah tangganya”, – maksudnya sebatas negerinya masing-masing -red. Karena yang dihadapi Ummat Islam adalah sembilan aktor intellectual yang dimotori oleh “system Mafia” yang dijelaskan oleh Allah pada Surah An-Namj Ayat 48 dan 49; Padahal kesemuanya permasalahan itu tanggung jawabnya telah Allah dan RasulNya tetapkan kepada “Al’Ulama”. Disatu sisi Allah telah berjanji akan kemenangan Islam di Akhir zaman yang mesti disongsong sebagaimana ditetapkanNya dalam al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33.-
Oleh karena itu dengan adanya perintah Allah yang ditujukan kepada para ‘Ulama dimana mereka dituntut kesiapannya untuk melakukan “Ittifa-qul ‘Ulama” sebagaimana tersebut dalam al Qur-an Surah Al-Baqoroh Ayat 208 dengan istilah lain “kesepakatan ‘Ulama”, yang diprakarsai Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana atau anshorullah menurut al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dengan melalui proses “Mudzakarah ‘Ulama”.- InsyaAllah.
Add comment Januari 11, 2009
Cara Memelihara Citra dan Cita Islam
Bukankah Allah telah menjelaskan secara sempurna terhadap hal ini dalam ayat-ayatNya :
- Qs. 34 :28, bahwa Rosulullah diutus untuk ummat manusia secara kaffah (keseluruhan)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)
Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.
- Qs. 45 : 20, al Qur-an sebagai sumber kaidah hokum bagai seluruh manusia
هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠)
Al Qur-an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
- Qs. 3 : 19, bahwa Dinul Islam untuk seluruh manusia, dimana sebagai makhluq yang wajib tunduk kepada kehendak al Kholiq.
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩)
Sesungguhnya ad Diin (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.
Dengan demikian, apabila manusia telah menerima ketetapan ini maka dirinya disebut muslim, artinya berserah diri. Sedangkan Allah menyebut hambaNya yang demikian dengan suatu panggilan khusus “ummat terbaik” (lihat Qs.3 : 110). Di dalam kata khoiru ummah mengandung muatan dan pesan khusus yang wajib kita fahami dan laksanakan. Ummat Terbaik artinya pilihan, dimana tidak semua manusia menyandang gelar kehormatan ini. Mereka ini adalah hamba-hamba yang sengaja dikeluarkannya ke tengah manusia sebagai “tim spesialis” atau “agen perubahan” dan “ummat teladan” yang membawa misi pencerahan, pembangunan lahir-bathin dengan cara menegakkan al ma’ruf dan mencegah dari al munkar sedang mereka beriman kepada Allah.
Untuk dapat menjalankan misi menegakkan al ma’ruf dan mencegah dari al munkar ini secara benar, tentunya memerlukan beberapa perbekalan khusus, yaitu :
- Meluruskan niat atau motivasi, yaitu bekerja dengan semata-mata merasa didorong oleh adanya perintah untuk mengabdi kepada Allah secara ikhlas menjalankan Addin. Kemudian memunculkan sikap kepeloporan tanpa menunggu orang lain memulainya (Qs.39:11-12).
- Membangun kehidupan berjamaah (Qs.3 :110), yang didalamnya tercermin pengamalan Dinul Islam dan terbangun sifat dan sikap mahabbah wa rahmah (cinta kasih dalam rumah tangga), mawaddah fil qurba (cinta kasih sesama muslim), dan mahabbah warrahmah (cinta kasih kepada seluruh manusia).
- Sabar dalam kehidupan berjamaah bersama orang-orang yang menyeru kepada Allah dengan tanpa sekalipun berpaling dari mereka karena tergoda oleh dunia (Qs.18 : 28).
- Pembenahan hati dari sifat fasiq, yaitu dengan cara berupaya mencintai Allah, Rosulullah dan Jihad di jalanNya diatas segala kecintaan terhadap bapak, anak, saudara, istri, keluarga, kekayaan, perdagangan, dan tempat tinggal (Qs.9:24).
- Mempersiapkan sarana dan prasarana untuk kebutuhan perjuangan tegaknya Kalimatullah (Qs.8 : 60).
Maka tatkala perbekalan diatas telah terpenuhi, berarti hamba-hamba Allah tersebut telah memenuhi syarat untuk melaksanakan suatu tugas dari Allah dalam yang dinyatakanNya dalam Qs.41:33,
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٣٣)
“Maka siapakah yang Paling Baik perkataannya selain orang-orang yang mengajak kepada (jalan) Allah, dan (mereka) mengiringinya dengan ‘amal sholih dan seraya berkata kami dari golongan muslim (yang menjalankan Dinul Islam)”
Objek Kerja yang Pasti Dihadapi oleh Ummat Terbaik
Sebagai ketentuan yang sangat wajar atau disebut sunatullah, bahwasannya segala yang tercipta memiliki pasangan yang bersifat antagonistic-berlawanan sifat. Contoh sederhana adanya malam dan siang, gelap dan terang, serta laki dengan perempuan. Begitupun terhadap hamba yang beriman mau tidak mau pasti senatiasa akan dimusuhi oleh orang-orang kafir dengan segala wujud ‘amaliyah atau kerjanya dan tingkatan pengingkarannya.
Jika hamba yang beriman menyeru manusia kepada sifat-sifat kemanusian yang secara fithrah menginginkan jati-dirinya senantiasa ingin menghambakan diri kepada Al Khaliq, maka berbeda 180 derajat dengan kemauan orang yang terkena dehumanisasi. Dehumanisasi maknanya adalah orang yang kehilangan sifat manusia serta telah mengalami kemerosotan akhlaqnya selaku makhluq yang dicipta sehingga secara congkak membelakangi tuntunan dari Sang Pencipta.
Secara ringkas, factor pemicu seseorang dapat mengalami dehumanisasi ini dapat dibagi menjadi beberapa sebab yang kesemuanya adalah cerminan sikap-sikap mereka sendiri dalam menerima kebenaran, yaitu dengan beberapa istilah:
- Skepticism, yaitu sikap acuh tak acuh, secara lahir seolah mendengar namun kenyataannya menulikan telinga (Qs. 8 : 21).
- Agnostics, yaitu sikap angkuh dan menghalangi tegaknya kebenaran (Qs.8:47).
- Eclecticism, yaitu kebiasaan berpedoman dengan pendapat kebanyakan manusia dengan mengabaikan pendapat al Qur-an (Qs.6:116).
- Hedonism, yaitu tergila-gila dengan kehidupan dunia yang singkat dan sengaja tidak peduli kehidupan akhirat yang kekal dan telah menunggunya (Qs. 76 :27).
- Logistic, yaitu qoum yang melandasi hidupnya atas dasar kemampuan fikir yang sejatinya ditetapkanNya terbatas kemampuannya untuk mencerna tentang kehidupan dan kematian, kecuali fikiran yang berlandaskan petunjuk wahyu dari Allah (Qs.45 : 24).
Dasar Pokok Kajian
Petunjuk Allah atas hambaNya dalam upaya menjunjung tinggi Kalimatullah, antara lain dapat mengambil dasar pokok yang tersebut dalam al Qur-an, yaitu :
a. Al Qur-an Surah Az-Zumar Ayat 3: Bahwa Ad-Diin dari Allah itu “bersih” dari segala hal yang akan dapat mengotori wujud pelaksanaan dari kaidah-kaidahnya. Bila dicampur dengan kekotoran nafsu maka hasilnyapun tidak akan pernah sampai dalam mencapai target.
أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (٣)
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ad Diin yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.
b. Al Qur-an Surah Fathir Ayat 10: Bahwa target “kemuliaan” dalam bentuk apapun hanya akan diperoleh melalui perantaraan hamba-hambaNya yang mengupayakan dirinya untuk berada dalam “kondisi bersih dalam bertauhid dan ber’amal sholih”.
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (١٠)
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.
Dengan ketetapan tersebut berarti bahwa yang senantiasa membuat kotor itu adalah “faktor nafsu” (Qs. Yusuf : 53) yang ditetapkanNya sebagai sarang bisikan syaithon (Qs. An-Nisa : 118).
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣)
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.
لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (١١٨)
Yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya-yaitu nafsu)
Maka Mengingat bahwa:
01. Allah telah memberikan sinyal terhadap kondisi nafsu muthmainnah, yaitu nafsu asal manusia yang tenang untuk melayani kebutuhan pemiliknya (Qs. Al-Fajr : 27-30).
02. Allah telah membatasi antara nafsu dengan `aqal pada hati manusia (Qs. Al-Anfal : 24) sehingga berarti bahwa `aqal pada hati nurani dituntut mengendalikan nafsu, sehingga manusia akan senantiasa menepati perintah tha’at hanya kepada Allah dan RasulNya (Qs. Al-Anfal : 20).
Dengan menepati perintah tha’at hanya kepada Allah dan RasulNya sebgai kaidah taqwa, maka Allah menjanjikan akan mendatangkan dua bagian dari rahmatNya, sehingga “Cahaya Kebenaran” akan senatiasa mengitarinya (Qs.Al-Hadid : 28). Inilah yang disebut kemenangan pemberian Allah terhadap hamba-hambaNya dalam menghadapi Ahli Kitab (Keuskupan Vatikan) dan musyrikin (PBB atau UNO). Karena ujung perjalanan Islam adalah Allah tegakkan Daulah Islam Dunia atas ummat manusia berdasarkan Kehendak dan KuasaNya.
Pembahasan
Dengan memahami terhadap petunjuk dalil sebagai dasar pokok kajian tersebut, maka dapat difaham secara jelas, antara lain bahwa:
A. Ad-Diinul Islam dengan segala sistem dan bentuk peng’amalannya, adalah kepunyaan dan ketetapan, serta wasiat mutlaq Yang Pencipta (Qs.Al-An’am : 53) yang secara pasti merupakan “perbekalan sempurna” bagi penterapan dimensi pengabdian manusia dan kemanusiaan (Qs. Al-Anbiya : 106). Inilah Sistem yang ditetapkan Allah.
B. Allah selamanya tidak pernah membenarkan terhadap segala sistem dari hasil produk manusia, apapun alasannya (Qs. Al-Kahfi : 103-105). Sistem yang mengada-ada (bid’ah) inilah sebagai penyebab kerusakan ummat manusia diseluruh dunia (Qs. Al-A’rof : 106). System ini disebut politik dan ini telah dipelopori oleh Ulama Ahli Kitab (Qs. At-Taubah : 34) yang dikemas melalui “perpaduan antara faktor nafsu dengan faktor sejarah peradaban Yunani kuno” (Qs. Al-Jatsiyah : 23-24)
Kemudian selanjutnya berkembang menjadi “pola sistem pemisahan antara agama dengan kenegaraan” atau sekularisme, sehingga memunculkan tokoh-tokoh sekular dengan konsepnya yang dipersiapkan untuk meracuni bagi kehidupan masyarakat dunia seperti antara lain : Socrates, Plato, Aristotle’s, Montesquieu, Dente, Kent, Machiavelli, Maltose dan sebagainya. Dan inilah pula dalam kenyataannya yang dipedomi oleh sebagian besar negara-negara di dunia yaitu sistem yang bertentangan dengan kebenaran dari Allah.
Maka berarti bahwa antara kedua sistem tersebut jelas terjadi antagonisme. Dan andaikatapun dibuat dalam bentuk istilah yang berbeda sumber dan bahasa sekalipun maka tetap pasti terjadi apa yang disebut “Sifat Antagonistik” dari kedua sistem tersebut (Qs. Al-Isro’ : 45).
Oleh karena itu bagi tiap pribadi yang telah menerima “Cahaya Islam” (Qs.Az-Zumar :22) dan “hidayah” (Qs. Yunus : 100), di dalam mengemban amanah Islam tidak dibenarkan merusak citra dan cita Islam. Oleh karena itu adalah wajib hukumnya untuk menepati sistem yang ditetapkan Allah (Qs. Al-Furqon : 52) yang dipandukan oleh RasulNya (Qs.Al-Hujurot : 7), sehingga dengan menepati hal ini seorang hamba Allah akan menjadi saksi (syahid) terhadap kedatangan Daulah Islam Dunia atas Kehendak dan Kekuasaan Allah. Dengan demikian jelaslah bahwa hanya sistem dari Allah yaitu Dinul Islam yang wajib dipedomani, kemudian para `Ulama al `Arif dan al Khowasy pulalah yang berperan utama dalam memandu ummat mutaakhir, mengingat bahwa nilai kemanusiaan adalah topik utama dalam al Qur-an.-
Disarikan dari Kaderisasi Mubaligh Sunnah, Sabtu 26 Rab’iul Akhir 1429 H,
Penyaji: Ust,Muhammad Bardan Kindarto.
Add comment Januari 11, 2009

