Saatnya tebar pesona……

Bebebrapa hari ini suasana kota amat meriah, hampir tiap hari baik di media masa, televisi maupun di jalan-jalan kota di ramaikan dengan berbagai aksi-aksi yang tidak biasa. Ada yang berteriak-teriak di pentas, ada yang berkeliling kota hingga membangunkan banyak orang yang tidur siang. Arak-arakan dan iringan kendaraan pemilu bertabur dan menghiasi jalan raya. Seorang tetangga  celetuk ”lumayan, dapat kaos dan duit. Untuk jajan anak-anak”
Pesta pemilu amat menarik, hampir setahun sebelumnya media masa telah turut serta meramaikan. Mulai dari prediksi, persaingan, uraian peta kekuatan, survei bahkan sang kandidat yang masih tidur pun di bangunkan dan di tanya tentang kesiapannya. Perang urat syaraf pun sudah biasa. Saling kritik bahkan saling melempar isu bak roti panggan panas yang di lempar-lempar. Tetap yang jadi tumbal utama adalah pemerintah sekarang.
Kemiskinan adalah komoditi siap jual yang paling laris bagi para kandidat, dan orang miskin menjadi objek utamanya. Dan kelaparan, pendidikan, adalah barang penunjangnya. Yang paling menarik jargon bangsa kacung melekat erat sebagai semboyan yang terus di gaungkan. Entah sadar atau tidak yang jelas….kita ini bangsa kacung.
Pada masa-masa ini akan banyak lahir tokoh-tokoh hebat yang mampu menganalisa permasalahan bangsa. Semua akan bicara tentang kesalahan pengurusan bangsa ini mulai dari a hingga z. Semua punya solusi menarik, dan tiap orang yang mendengar seakan di yakinkan lima tahun mendatang negeri ini jadi negeri yang paling maju di dunia, konsep-konsep mutakhir pun di gulirkan. Termasuk para pendukung partai pemerintah. Tak kalah merumuskan dan menawarkan solusi untuk lima tahun kedepan. Tapi entah kenapa sejak limatahun  yang lalu saya masih seperti ini.”ah…hanya harapan celetuk seorang pak tua”.
Tapi yang menarik pada masa-masa kampanye ini saya sarankan kepada anda jangan sampai ketinggalan, kesempatan besar bagi anda. Tolong jangan di lewatkan….masa-masa bertabur hadiah, uang, baju kaos, bahkan ada hal yang lebih lagi, misalnya untuk karang taruna di desa-desa agar dapat di manfaatkan masa tebar pesona ini untuk membeli satu set bola kaki. Toh satu juta bagi sang caleg tak masalah. Tinggal buat proposal…..dan anda akan dapat senyuman serta uang. Bagi anda yang ingin mengadakan pesta penikahan. Biaya pernikahan anda dapat sedikit terbantu jika saja anda mau mencari sponsor dari salah satu partai, ya…tak perlu di cari justru anda akan di tawari. .
Dan anda ingin tahu bagaimana indonesia sesudah pemilu ini, semuanya sudah terlihat sekarang. Tinggal anda membandingkan saja antara pemilu yang lalu dan hasilnya maka pemilu sekarang hasilnya………….
Entah sampai kapan kita seperti ini?? Wallahualam 

Maret 25, 2009 at 12:08 pm 1 komentar

Pentingnya dakwah sekolah

DAKWAH SEKOLAH

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak hingga dewasa, suatu tahap kehidupan yang bersifat peralihan dan tidak tetap. Remaja selalu penuh dengan gejolak dan keinginan besar. Remaja ingin menyesuaikan diri dalam masyarakat, ingin diakui oleh masyarakat bahwa ia telah dewasa. Rasa ingin tau yang tinggi dapat menjerumuskan remaja pada hal-hal negatif apabila tidak diberikan pendidikan dan pengarahan pada mereka. Begitu banyak remaja yang menghabiskan waktu luang mereka dengan nongkrong tidak karuan di jalanan, ikut-ikutan teman yang sering mengkonsumsi minuman keras bahkan terjerumus pada penggunaan zat psikotropika dan seks bebas

Proses peralihan pada masa remaja ini sebenarnya merupakan efek yang di timbulkan oleh gejolak di diri remaj yang biasa dikenal sebagai negative phase dengan ciri-ciri antara lain: ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi, penentangan terhadap kewibawaan orang dewasa, kurang percaya diri dan suka berkhayal. Pada saat yang sama muncul pula positive phase dimana remaja mulai memikirkan tentang masa depannya dan telah memiliki kesiapan untuk ditempa lebih lanjut untuk mencapai cita-citanya. Remaja memiliki kemurnian niat, semangat yang tinggi, fisik yang kuat, idealisme yang besar dan kesiapan fikri yang optimal. Potensi positif dan negatif ini dapat (lebih…)

Januari 19, 2009 at 9:49 am 1 komentar

SEJARAH MUDZAKARAH ULAMA ABAD KE 17

ABSTRAK

Tim Pelacakan Sejarah dibentuk oleh Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu pada bulan Agustus 2007 lalu. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para ’ulama di Sumatera Selatan untuk bermudzakarah? Sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab antara lain : apa latar belakangnya mudzakarah tersebut; siapa saja tokohnya; dimana lokasinya; dan apa isi mudzakarah tersebut; hasil-hasilnya; serta pengaruhnya terhadap ummat Islam khususnya di Rumpun Melayu?

Untuk menjawab berbagai pertanyaan awal di atas, maka dalam tim ini dibentuk dua bidang tugas. Pertama, bertugas untuk menggali fakta dari literatur atau tulisan sejarah di buku, internet, serta asip-arsip kuno di perpustakan dan di masyarakat. Kedua, melalui wawancara langsung dengan pakar sejarah dari Perguruan Tinggi, Musium Purbakala, serta tokoh masyarakat yang merupakan keturunan dari pelaku sejarah. Juga dilakukan tinjauan langsung ke lokasi sejarah di daerah Perdipe. Tim ini bekerja sekitar dua bulan sejak dibentuk. Kemudian hasil penelitian ini telah disampaikan pada Musyawarah Pleno ke 1 DP3MU September 2007 lalu di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat, Banyuasin, Sumatera Selatan.

Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :

1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.

2. Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.

3. Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.

4. Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.

5. Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.

A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M

Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di (lebih…)

Januari 11, 2009 at 11:00 am 1 komentar

KEDUDUKAN AL ‘ULAMA

Muqoddimah

Melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh ummat manusia, mengingatkan kita untuk kembali mentelaah semuanya dengan kacamata al Qur-an dan atau al Hadits Shohih, “apa yang seharusnya dilakukan?” Dimana Allah pasti tidak akan lagi menurunkan RasulNya seperti dalam al Qur-an Surah Al- Ahzab Ayat 40 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir dan penutup para Nabi. Selanjutnya ketika melihat al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33 dan al Hadits Shohih riwayat Muslim dari jalan Syadad bin Aus dan Tsauban yang pada intinya Allah menggambarkan bahwa pada akhir zaman pasti Dia tegakkan al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai Norma Hukum bagi seluruh ummat manusia dan semesta alam yang akhirnya manusia hanya terbagi menjadi dua golongan yaitu pertama mukmin yang dimuliakan Allah dan kafir yang dihinakan Allah. Maka yang menjadi pokok pertanyaan kita adalah, “siapa dan bagaimana menyongsong janji tersebut?”

Allah SWT memberikan isyarat petunjuk dalam al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dimana pada Ayat tersebut ada beberapa pokok penjelasan yaitu, pertama Nabi Isa Ibnu Maryam berkata “Siapakah penolong-penolongku kepada Allah” kalimat ini memberikan pengertian bahwa setelah para Rasul dan Nabi tidak diutus lagi dan hanya al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai bekalan, maka yang wajib bergerak untuk menjemput janjiNya adalah Al’Ulama dan Anshorullah.Dalam hal ini dijelaskan dalam al Qur-an Surah Fathir Ayat 28 dan al Qur-an Surah Asy-Syuro Ayat 13 Al ulama bekerja memandu dan menyeru ummat. Yang kedua ummat Islam secara umum bergerak menyambut seruan tersebut sebagai anshorullah. Sebagaimana sambutan hawariy kepada rasulullah Isa ,”Kami penolong diinullah”. Inilah yang disebut Muttabi atau pengikut setia Rasulullah yang siap menjadi Anshorullah, yang mereka ini harus mampu memenuhi apa yang disyaratkan Allah dalam Surah Al-Kahfi Ayat 28 dan 29 dimana disebutkan harus memiliki sikap teguh pendirian atau istiqomah dalam pola berjamaah dan pada al Qur-an Surah Al-Anfal Ayat 20 yaitu melakukan tansiq untuk menyatukan hati orang-orang yang beriman dalam suatu tandhim yang tertata dengan rapi.

Kedua golongan inilah yaitu Al’Ulama dan Hawariy yang siap menjemput janji Allah akan keberlakuan HukumNya di muka bumi yang dilakui siang dan malam sampai akhir zaman.

Pokok Kajian

Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk berupa gambaran dari satu sikap hamba Allah yang tidak terlena oleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan gejolak kehidupan duniawiyah, sebagaimana digambarkan dalam Surah An-Nur Ayat 37, yaitu :

“Para lelaki yang tidak dapat terlalaikan mereka itu oleh perniagaan dan jual beli terhadap mengingati Allah, dan mendirikan sholat dan membayarkan zakat (lantaran) mereka takut akan suatu hari (dimana) terjadi goncang pada waktu itu, hati dan pandangan”

Ayat tersebut bila dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, sangat jelas menggambarkan tentang sikap “Al’Ulama” yang senantiasa berupaya menepati tugas dan tanggung jawabnya dalam menjunjung tinggi Kalimatullah. Oleh karena itu, maka Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya mengenai dua macam kedudukan Al ‘Ulama. Pertama, ‘Ulama itu adalah pemegang amanah Allah atas makhluqNya yang menjelaskan al Qur-an Surah Fathir Ayat 28. Kedua, Al ‘Ulama sebagai pemegang amanah para Rasul dengan dalil Surah Asy-Syuro Ayat 13. Sehingga dengan kedudukan ini Al ‘Ulama akan senantiasa berupaya untuk mematuhi dan menepati batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.

Pembahasan

Bahwa sebenarnya “Al’Ulama” adalah hamba Allah yang faqir, artinya senantiasa berharap keridhoan Allah dalam segala kiprah hidupnya untuk menepati pengabdiannya. Berarti kepribadiannya sudah harus terukur, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah Ayat 24, bahwa mereka itu “cinta kepada Allah, RasulNya dan Jihad di jalanNya diatas segalanya”. Inilah tatanan kepribadian utama yang membuat Al’Ulama disebut Al’Arif dan Al’Khowasy. Kemudian hal ini memunculkan sikap ketulusan hati dalam ketha’atan, sehingga berupaya sekuat mungkin menepati perintah Allah dengan tidak akan pernah mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil. Sikap inilah yang dicantumkan Allah di dalam Surah Al-Baqoroh Ayat 42.

“Dan janganlah mencampur-adukkan al haq dengan yang bathil, dan kamu

menyembunyikan al haq sedangkan kamu mengetahui”

Muatan makna dari ayat ini antara lain:

A. Al’Ulama dituntut kemampuannya dalam memahami beberapa batasan dari Allah, antara lain adalah ketetapan Allah untuk memiliki “hija-ban mastu-ro” (dinding pembatas atau pembeda) yang dinyatakanNya dalam Surah Al-Isro Ayat 45. Maka dengan itu akan berkemampuan menjelaskan berbagai perbedaan sifat (antagonistic) antara dinul Islam- dari dan milik Allah, dengan system hidup buatan manusia. Diantaranya perbedaan antara Asy-Syiyasah dengan Politik yang merupakan produk fikiran manusia.

B. Berdasarkan Surah Al-Anfal Ayat 24 bahwa dituntut kemampuannya dalam mewaspadai diri, terhadap keberadaan potensi nafsu dan al`aqlu, yang antara keduanya ada pembatas. Nafsu adalah tempat atau intuisi yang sangat potensial bagi bisikan syaithon. Sedangkan al`aqlu adalah intuisi bagi suara wahyu. Artinya dalam menerima perintah dari al Qur-an harus menempatkannya dalam al`aqlu bukan dilandasi nafsu. Dengan adanya kontrol diri ini maka al ‘Ulama akan dapat melakukan pengkondisian terhadap ummat Islam ke arah yang benar, agar mereka tidak terpengaruh oleh bisikan nafsu angkara murka yang dijelaskan Surah Yusuf Ayat 53. Maka dengan ini akan tampaklah bahwa sesungguhnya Islam itu mengutamakan cinta kasih terhadap ummat manusia, karena masalah manusia adalah topik utama dalam al Qur-an sebagaimana panduan dalil Surah Al-Maidah Ayat 32.

Manakala hal tersebut telah difahami, maka dengan berpedoman pada Kaidah Menejemen al Qur-an yang dijelaskan Surah Al-Furqon Ayat 52 serta wujud dari menejemen al Qur-an yang dijelaskan juga pada Surah Al-An’am Ayat 153, secara jelas al ‘Ulama akan mampu memberikan jalan keluar kepada Ummat Islam ketika mereka dihadapkan dengan beberapa kenyataan, antara lain :

1. Dalam kehidupan global (ma-adina), dipastikan setiap Negara di dunia telah mengalami proses “integrasi” atau penyatuan dalam berbagai kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

2. Dalam hubungan antar bangsa secara pasti terjadi proses “interdependency”, yaitu terjadi saling ketergantungan dalam hal saling memberi dan menerima, antara lain dalam hal warna peradaban.

Mengatasi hal tersebut, jelas tidak mungkin bisa menemukan antisipasinya, selama para ‘Ulama hanya berfikir sebatas “rumah tangganya”, – maksudnya sebatas negerinya masing-masing -red. Karena yang dihadapi Ummat Islam adalah sembilan aktor intellectual yang dimotori oleh “system Mafia” yang dijelaskan oleh Allah pada Surah An-Namj Ayat 48 dan 49; Padahal kesemuanya permasalahan itu tanggung jawabnya telah Allah dan RasulNya tetapkan kepada “Al’Ulama”. Disatu sisi Allah telah berjanji akan kemenangan Islam di Akhir zaman yang mesti disongsong sebagaimana ditetapkanNya dalam al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33.-

Oleh karena itu dengan adanya perintah Allah yang ditujukan kepada para ‘Ulama dimana mereka dituntut kesiapannya untuk melakukan “Ittifa-qul ‘Ulama” sebagaimana tersebut dalam al Qur-an Surah Al-Baqoroh Ayat 208 dengan istilah lain “kesepakatan ‘Ulama”, yang diprakarsai Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana atau anshorullah menurut al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dengan melalui proses “Mudzakarah ‘Ulama”.- InsyaAllah.

Januari 11, 2009 at 10:11 am Tinggalkan komentar

Cara Memelihara Citra dan Cita Islam

Perlu kita ingat bersama beberapa pesan penting di dalam al Qur-an bahwa keberadaan Rosulullah Muhammad dan al Qur-an ditetapkan Allah untuk diiukuti oleh ummat manusia seluruh dunia, serta Dinul Islam itu sifatnya universal. Artinya, Dinul Islam adalah sistem ajaran yang tidak akan pernah bertentangan dengan fithrah manusia, keberlakuaannya untuk sepanjang zaman. Islam adalah produk mutlaq dari al Kholiq yang muatannya suci dari segala campur tangan nafsu dan logika manusia. Islam hanya akan dirasa bertentangan bila dihadapkan kehendak nafsu manusia yang telah dikuasai oleh kehendak syaithoniyah.

Bukankah Allah telah menjelaskan secara sempurna terhadap hal ini dalam ayat-ayatNya :

  1. Qs. 34 :28, bahwa Rosulullah diutus untuk ummat manusia secara kaffah (keseluruhan)

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (٢٨)



Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

  1. Qs. 45 : 20, al Qur-an sebagai sumber kaidah hokum bagai seluruh manusia

هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (٢٠)

Al Qur-an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.

  1. Qs. 3 : 19, bahwa Dinul Islam untuk seluruh manusia, dimana sebagai makhluq yang wajib tunduk kepada kehendak al Kholiq.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩)

Sesungguhnya ad Diin  (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam, tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

Dengan demikian, apabila manusia telah menerima ketetapan ini maka dirinya disebut muslim, artinya berserah diri. Sedangkan Allah menyebut hambaNya yang demikian dengan suatu panggilan khusus “ummat terbaik”  (lihat Qs.3 : 110). Di dalam kata khoiru ummah mengandung muatan dan pesan khusus yang wajib kita fahami dan laksanakan. Ummat Terbaik artinya pilihan, dimana tidak semua manusia menyandang gelar kehormatan ini. Mereka ini adalah hamba-hamba yang sengaja dikeluarkannya ke tengah manusia sebagai “tim spesialis” atau “agen perubahan” dan “ummat teladan” yang membawa misi pencerahan, pembangunan lahir-bathin dengan cara menegakkan al ma’ruf dan mencegah dari al munkar sedang mereka beriman kepada Allah.

Untuk dapat menjalankan misi menegakkan al ma’ruf dan mencegah dari al munkar ini secara benar, tentunya memerlukan beberapa perbekalan khusus, yaitu :

  1. Meluruskan niat atau motivasi, yaitu bekerja dengan semata-mata merasa didorong oleh adanya perintah untuk mengabdi kepada Allah secara ikhlas menjalankan Addin. Kemudian memunculkan sikap kepeloporan tanpa menunggu orang lain memulainya (Qs.39:11-12).
  2. Membangun kehidupan berjamaah (Qs.3 :110), yang didalamnya tercermin pengamalan Dinul Islam dan terbangun sifat dan sikap mahabbah wa rahmah (cinta kasih dalam rumah tangga), mawaddah fil qurba (cinta kasih sesama muslim), dan mahabbah warrahmah (cinta kasih kepada seluruh manusia).
  3. Sabar dalam kehidupan berjamaah bersama orang-orang yang menyeru kepada Allah dengan tanpa sekalipun berpaling dari mereka karena tergoda oleh dunia (Qs.18 : 28).
  4. Pembenahan hati dari sifat fasiq, yaitu dengan cara berupaya mencintai Allah, Rosulullah dan Jihad di jalanNya diatas segala kecintaan terhadap bapak, anak, saudara, istri, keluarga, kekayaan, perdagangan, dan tempat tinggal (Qs.9:24).
  5. Mempersiapkan sarana dan prasarana untuk kebutuhan perjuangan tegaknya Kalimatullah (Qs.8 : 60).

Maka tatkala perbekalan diatas telah terpenuhi, berarti hamba-hamba Allah tersebut telah memenuhi syarat untuk melaksanakan suatu tugas dari Allah dalam yang dinyatakanNya dalam Qs.41:33,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٣٣)

“Maka siapakah yang Paling Baik perkataannya selain orang-orang yang mengajak kepada (jalan) Allah, dan (mereka) mengiringinya dengan ‘amal sholih dan seraya berkata kami dari golongan muslim (yang menjalankan Dinul Islam)”

Objek Kerja yang Pasti Dihadapi oleh Ummat Terbaik

Sebagai ketentuan yang sangat wajar atau disebut sunatullah, bahwasannya segala yang tercipta memiliki pasangan yang bersifat antagonistic-berlawanan sifat. Contoh sederhana adanya malam dan siang, gelap dan terang, serta laki dengan perempuan. Begitupun terhadap hamba yang beriman mau tidak mau pasti senatiasa akan dimusuhi oleh orang-orang kafir dengan segala wujud ‘amaliyah atau kerjanya dan tingkatan pengingkarannya.
Jika hamba yang beriman menyeru manusia kepada sifat-sifat kemanusian yang secara fithrah menginginkan jati-dirinya senantiasa ingin menghambakan diri kepada Al Khaliq, maka berbeda 180 derajat dengan kemauan orang yang terkena dehumanisasi. Dehumanisasi maknanya adalah orang yang kehilangan sifat manusia serta telah mengalami kemerosotan akhlaqnya selaku makhluq yang dicipta sehingga secara congkak membelakangi tuntunan dari Sang Pencipta.
Secara ringkas, factor pemicu seseorang dapat mengalami dehumanisasi ini dapat dibagi menjadi beberapa sebab yang kesemuanya adalah cerminan sikap-sikap mereka sendiri dalam menerima kebenaran, yaitu dengan beberapa istilah:

  1. Skepticism, yaitu sikap acuh tak acuh, secara lahir seolah mendengar namun  kenyataannya menulikan telinga (Qs. 8 : 21).
  2. Agnostics, yaitu sikap angkuh dan menghalangi tegaknya kebenaran  (Qs.8:47).
  3. Eclecticism, yaitu kebiasaan berpedoman dengan pendapat kebanyakan manusia dengan mengabaikan pendapat al Qur-an (Qs.6:116).
  4. Hedonism, yaitu tergila-gila dengan kehidupan dunia yang singkat dan sengaja tidak peduli kehidupan akhirat yang kekal dan telah menunggunya (Qs. 76 :27).
  5. Logistic, yaitu qoum yang melandasi hidupnya atas dasar kemampuan fikir  yang sejatinya ditetapkanNya terbatas kemampuannya untuk mencerna tentang kehidupan dan kematian, kecuali fikiran yang berlandaskan petunjuk wahyu dari Allah (Qs.45 : 24).

Dasar Pokok Kajian

Petunjuk Allah atas hambaNya dalam upaya menjunjung tinggi Kalimatullah, antara lain dapat mengambil dasar pokok yang tersebut dalam al Qur-an, yaitu :

a. Al Qur-an Surah Az-Zumar Ayat 3: Bahwa Ad-Diin dari Allah itu “bersih” dari segala hal yang akan dapat mengotori wujud pelaksanaan dari kaidah-kaidahnya. Bila dicampur dengan kekotoran nafsu maka hasilnyapun tidak akan pernah sampai dalam mencapai target.

أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (٣)

Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ad Diin yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.

b. Al Qur-an Surah Fathir Ayat 10: Bahwa target “kemuliaan” dalam bentuk apapun hanya akan diperoleh melalui perantaraan hamba-hambaNya yang mengupayakan dirinya untuk berada dalam “kondisi bersih dalam bertauhid dan ber’amal sholih”.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَكْرُ أُولَئِكَ هُوَ يَبُورُ (١٠)

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur.

Dengan ketetapan tersebut berarti bahwa yang senantiasa membuat kotor itu adalah “faktor nafsu” (Qs. Yusuf : 53) yang ditetapkanNya sebagai sarang bisikan syaithon (Qs. An-Nisa : 118).

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣)

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Robbku. Sesungguhnya Robbku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.

لَعَنَهُ اللَّهُ وَقَالَ لأتَّخِذَنَّ مِنْ عِبَادِكَ نَصِيبًا مَفْرُوضًا (١١٨)

Yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya-yaitu nafsu)

Maka Mengingat bahwa:

01. Allah telah memberikan sinyal terhadap kondisi nafsu muthmainnah, yaitu nafsu asal manusia yang tenang untuk melayani kebutuhan pemiliknya (Qs. Al-Fajr : 27-30).

02. Allah telah membatasi antara nafsu dengan `aqal pada hati manusia (Qs. Al-Anfal : 24) sehingga berarti bahwa `aqal pada hati nurani dituntut mengendalikan nafsu, sehingga manusia akan senantiasa menepati perintah tha’at hanya kepada Allah dan RasulNya (Qs. Al-Anfal : 20).

Dengan menepati perintah tha’at hanya kepada Allah dan RasulNya sebgai kaidah taqwa, maka Allah menjanjikan akan mendatangkan dua bagian dari rahmatNya, sehingga “Cahaya Kebenaran” akan senatiasa mengitarinya (Qs.Al-Hadid : 28).  Inilah yang disebut kemenangan pemberian Allah terhadap hamba-hambaNya dalam menghadapi Ahli Kitab (Keuskupan Vatikan) dan musyrikin (PBB atau UNO). Karena ujung perjalanan Islam adalah Allah tegakkan Daulah Islam Dunia atas ummat manusia berdasarkan Kehendak dan KuasaNya.

Pembahasan

Dengan memahami terhadap petunjuk dalil sebagai dasar pokok kajian tersebut, maka dapat difaham secara jelas, antara lain bahwa:

A. Ad-Diinul Islam dengan segala sistem dan bentuk peng’amalannya, adalah kepunyaan dan ketetapan, serta wasiat mutlaq Yang Pencipta (Qs.Al-An’am : 53) yang secara pasti merupakan “perbekalan sempurna” bagi penterapan dimensi pengabdian manusia dan kemanusiaan (Qs. Al-Anbiya : 106). Inilah Sistem yang ditetapkan Allah.

B. Allah selamanya tidak pernah membenarkan terhadap segala sistem dari hasil produk manusia, apapun alasannya (Qs. Al-Kahfi : 103-105). Sistem yang mengada-ada (bid’ah) inilah sebagai penyebab kerusakan ummat manusia diseluruh dunia (Qs. Al-A’rof : 106). System ini disebut politik dan ini telah dipelopori oleh Ulama Ahli Kitab (Qs. At-Taubah : 34) yang dikemas melalui “perpaduan antara faktor nafsu dengan faktor sejarah peradaban Yunani kuno” (Qs. Al-Jatsiyah : 23-24)

Kemudian selanjutnya berkembang menjadi “pola sistem pemisahan antara agama dengan kenegaraan” atau sekularisme, sehingga memunculkan tokoh-tokoh sekular dengan konsepnya yang dipersiapkan untuk meracuni bagi kehidupan masyarakat dunia seperti antara lain : Socrates, Plato, Aristotle’s, Montesquieu, Dente, Kent, Machiavelli, Maltose dan sebagainya. Dan inilah pula dalam kenyataannya yang dipedomi oleh sebagian besar  negara-negara di dunia yaitu sistem yang bertentangan dengan kebenaran dari Allah.
Maka berarti bahwa antara kedua sistem tersebut jelas terjadi antagonisme. Dan andaikatapun dibuat dalam bentuk istilah yang berbeda sumber dan bahasa sekalipun maka tetap pasti terjadi apa yang disebut “Sifat Antagonistik” dari kedua sistem tersebut (Qs. Al-Isro’ : 45).
Oleh karena itu bagi tiap pribadi yang telah menerima “Cahaya Islam” (Qs.Az-Zumar :22) dan “hidayah” (Qs. Yunus : 100), di dalam mengemban amanah Islam tidak dibenarkan merusak citra dan cita Islam. Oleh karena itu adalah wajib hukumnya untuk menepati sistem yang ditetapkan Allah (Qs. Al-Furqon : 52) yang dipandukan oleh RasulNya (Qs.Al-Hujurot : 7), sehingga dengan menepati hal ini seorang hamba Allah akan menjadi saksi (syahid) terhadap kedatangan Daulah Islam Dunia atas Kehendak dan Kekuasaan Allah. Dengan demikian jelaslah bahwa hanya sistem dari Allah yaitu Dinul Islam yang wajib dipedomani, kemudian para `Ulama al `Arif dan al Khowasy pulalah yang berperan utama dalam memandu ummat mutaakhir, mengingat bahwa nilai kemanusiaan adalah topik utama dalam al Qur-an.-

Disarikan dari Kaderisasi Mubaligh Sunnah, Sabtu 26 Rab’iul Akhir 1429 H,
Penyaji: Ust,Muhammad Bardan Kindarto.

Januari 11, 2009 at 10:05 am Tinggalkan komentar

AWWALUL MUSLIMIN


Sebagaimana telah difahami bahwa keadaan manusia sebagai makhluq sosial berdasarkan Sunnatullah adalah terbagi kepada tiga ketetapan, yaitu:

a. Keberadaannya sesuai dengan kejadiannya, yaitu diberi kemampuan untuk menentukan dirinya sendiri, sehingga karena itu mempunyai tujuan yang berbeda-beda, dan dari sinilah manusia akan memperoleh Hidayah dari Allah atau sebaliknya.

sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. serta mendustakan pahala terbaik maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar [qa4-10s92=al lail].-

b. Keberadaannya sebagai makhluq sosial, sehingga dengan itu terjadi perkawinan antara laki dengan perempuan untuk membangun masyarakat manusia dalam bentuk berbangsa-bangsa dan berqabilah-qabilah. [q13s49=al hujurat].-

c. Allah telah menetapkan tanggung jawab mengabdi (beribadat), dengan meliputi vertikal, horizontal dan konskwensial. [qa56s51=adz dzariyat].-

Dengan yang tersebut maka Allah telah memberikan ketetapan perihal tujuan hidup sebagaimana difirmankan dalam surah Al An’am 162-163, yaitu:

“Katakanlah (Muhammad):” Sesungguhnya shalatku dan ‘ibadatku dan hidupku dan matiku adalah untuk Allah Robb sekalian alam”; ”Tiada sekutu bagiNya, dan dengan demikian itu aku diperintah dan aku adalah awal daripada orang-orang yang berserah diri”.-

Petunjuk firman tersebut secara maknawi memberikan gambaran tentang ketetapan Allah atas RasulNya sebagai pemandu dalam hal Syari’at

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui [qa18s45=al jatsiyah]

sebagaimana ketetapanNya dari semenjak Nuh ‘alaihis salam[qa13s42=asy syura]. Dengan demikian maka tanggung jawab hamba Allah yang telah menerima Nur Hidayah Islam

Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata [qa22s39=az zumar]

dalam menepati sebagai muttabi’ur rasul wajib untuk sabiq -bil khoirat

Dia-lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir, maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kerugian mereka belaka [qa32s35=fathir], sehingga akan memiliki sifat kepeloporan dalam Islam atas perintah Allah.-

Tugas Kepeloporan dalam Islam

Bahwa sesungguhnya yang menjadi tuntutan dalil sebagaimana tersebut meliputi antar lain:

01. Wajib faham dan penuh penghayatan terhadap makna fithrah sebagai hamba yang wajib mengabdi hanya kepadaNya dengan meliputi seluruh dimensinya. [qa30s30=ar rum].-

02. Fungsi Rasulullah saw adalah wajib dijadikan sebagai pedoman dalam seluruh panduannya, baik dalam segi pemahaman tentang Al Haditsnya maupun secara pola dan sistemnya. [qa7s49=al hujurat], berikut sikap kepeduliannya terhadap kondisi ummat. [qa128s9=at taubah].-

03. Wajib mengupayakan dan mengutamakan Akhlaq Tauhid dalam tiap diri pribadinya, sehingga dengan itu akan

berkemampuan menjadikan kaidah akhlaq sebagai ukuran perkembangan dalam kehidupan masyarakat manusia [qa110s3=ali imron].-

04. Wajib memupuk semangat jihad dalam diri pribadinya dengan disertai pengorbanannya dibidang maal dan ataupun kesemangatan dalam bentuk aktivitas rutin dengan penuh optimistik. [qa44s9= at taubah].-

05. Wajib menyadari terhadap makna “ruhama’ antara muslim dan tajum terhadap kafir”, karena dengan itu tidak akan membuahkan tindakan maupun gerakan yang gegabah dan merusak citra Islam dan Muslim. [qa29s48=al fath].-

Disamping itu dalam membangun sifat kepeloporan dalam diri pribadi maka dituntut kemampuannya dalam memegang amanah, dan benar dalam segala pembicaraannya, dan terpuji sesuai tuntutan dalam menepati akhlaqul ‘adhim, serta mampu mencari dan mengupayakan penghidupan yang halal. [ al Hadits asy Syaikhon, Ahmad, Ibnu Hibban dari Abi Hurairah].-

Ditulis oleh Ust Muhd. Bardan Kindarto

Januari 11, 2009 at 9:52 am Tinggalkan komentar

hIJRAH RASUL

Dengan mengamati terhadap beberapa pembuktian yang ditunjukkan dalam Al Qur-an,bahwa Allah telah mengisyaratkan kepada RasulNya melalui WahyuNya, bahwa Al Qur-an adalah sebagai furqon dan tidak akan pernah dapat disamakan dengan tanggapan kaum jahiliyah sebagai dongengan zaman dahulu, maka sebagai jawaban terhadap tipu daya jahat mereka kemudian Rasulullah menuntunkan melalui “Panduan Isyarat” dari Allah yang disebut Hijratur Rasul dari Makkah ke Madinah. Panduan tersebut berdasarkan isyarat dari petunjuk Wahyu [qa3-4s53=an najm], maka diterangkan dalam Surah Al Anfal 31,yaitu:

Dan(ketahuilah) ketika orang-orang kafir itu mengatur tipu daya kepadamu untuk menahanmu atau membunuhmu atau mengusirmu. Dan(ketahuilah)mereka mengatur tipu daya, dan Allah juga mengatur tipu daya, dan Allah itu sebaik-baik yang dapat mengatasi tipu daya”.

Ayat tersebut merupakan peringatan dari Yang Maha Mengetahui hati manusia, maka setelah terjadi proses hijrah, Allah mengingatkan melalui bimbingan wahyuNya dalam Surah An Nisa 100, yaitu:

“Dan barang siapa berhijrah dalam jalan Allah niscaya dia dapati dibumi ini tempat perlindungan yang banyak dan luas, dan barang siapa keluar dari rumahnya sebagai orang yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya kemudian dia menemui kematian kepadanya, maka sungguh telah tetap ganjarannya atas Allah. Dan adalah Allah itu Yang Pengampun Yang Penyayang”.-

Dengan yang tersebut maka Rasulullah saw telah menjelaskan tentang motivasi Hijrah bagi orang yang beriman.-

Analisa Panduan

Bahwa sesungguhnya peristiwa Hijratur Rasul merupakan peristiwa yang telah dikenal oleh Dunia Islam pada khususnya dan ummat manusia pada umumnya, dan bahkan keberadaan Tahun Baru Hijriyah juga difaham secara umum. Akan tetapi yang harus mendapatkan tempat khusus dalam pemahaman daripada Hijratur Rasul bagi ummat Islam adalah antara lain:

A. Hijrah mempunyai pengertian ”memutuskan hubungan” ; Dimaksudkan adalah meninggalkan Sistem yang dibuat oleh kaum humanisme sekuler

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? [qa23s45=al jatsiyah]

menuju Sistem yang ditetapkan oleh Allah :

dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa [qa153s6=al an’am].

Dengan demikian maka akan dapat membangun sumber daya manusia yang berdaya guna sesuai dengan amanah yang ditetapkan Allah.

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur[973] sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh [qa105s21=al anbiya]

menuju kesejahteraan lahir bathin dengan kemajuan yang pesat bersama KeredlaanNya tanpa harus berhadapan dengan kekuatan alam yang dahsyat.-

B. Hijrah mempunyai pengertian“tindakan pengkondisian”;Dimaksudkan adalah sebagaimana Rasulullah saw telah membangun hubungan hati (tansiq) antara muhajirin dan anshor di Madinah

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [qa10-12s49=al hujurat].

Kemudian dilanjutkan dengan membangun kemitraan dengan Ahli Kitab dan membuat Konstitusi tertulis pertama kali didunia yang berisikan 10 Bab meliputi 47 Pasal, sebagai langkah awal menuju Rahmatan lil ‘alamin.

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam [qa107s21=al anbiya].

Dengan yang tersebut maka dapat dimengerti bahwa makna Hijratur Rasul dalam kondisi dunia yang telah mengalami keretakan kemanusiaan secara total, berarti saatnya “membuat dan meletakkan Metode Operasional yang digelar secara mendunia”, karena Rasulullah adalah teladan sepanjang zaman yang paling Shahih (akurat dan valid) menurut petunjuk Al Qur-an

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah .[qa21s33=al ahzab].

oleh Ust  Muhd. Bardan Kindarto

Panduan Al Qur-an

Januari 11, 2009 at 9:30 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


tak lebih dan tak berarti, terseok-seok, jatuh, terjerembab mengejar kebenaran tuk sampai pada Rabbnya. hanyahamba yang lemah dan tak berdaya yang hilang dalam perenungannya.

Ruang Tamu

kalender hijriyah

Juni 2017
S S R K J S M
« Mar    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Terbaru

akankah hidup ini menjadi berarti, saat duduk bersama orang-orang tercinta. saat berdiri dengan di antara orang-orang yang lemah? saat nafas ini masih bergerak? apa yang telah kita lakukan? hanyakah singgah untuk istirahat saja, atau memahami ini sebagai perjuangan.........yang lemah ini belum mampu menjawab.

hari ini anda yang ke....

  • 3,080 hits